Rileks Sejenak

FRIENDLY

Sunday, October 29, 2006

Rahasianya Sigmund Freud

Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis adalah seorang
ilmuwan kondang yang bisa disejajarkan dengan Darwin maupun Einstein. Banyak
orang mengenal dan mengetahui hasil karyanya, tetapi hanya sedikit orang
yang mengetahui kehidupan dia yang sebenarnya. Apakah Anda tahu bahwa ia
menyimpan banyak sekali rahasia berupa koleksi hasil karyanya yang disimpan
di Library of Congress di Washington. Rahasia tsb sampai detik ini tidak
boleh dipublikasikan maupun dibaca oleh siapapun juga. Koleksi karya dia ini
baru boleh dibuka pada tahun 2113. Apakah ini rahasia mengenai kehancurannya
umat manusia?

Freud yakin dan juga cemas bahwa pada suatu saat umat manusia ini akan
punah. Jadi mirip seperti surat rahasia dari Fatima yang mewahyukan tentang
kiamat. Hanya bedanya Freud adalah seorang ateist tulen dan pendukung
beratnya teori Darwin. Menurut dia agama itu hanya sekedar ilusi atau
iming-iming saja. Agama itu dasar utamanya hanya sekedar angan-angan
(wishfulfillment), karena manusia takut mati dan menderita. (The Future of
an Illusion - 1927).

Ia juga menilai sebagai infantilisme (kenakan-kanakan). Tuhan itu
sebenarnya adalah ciptaan dari daya khayal manusia, sebagai pengganti dari
sang ayah. Jadi akar kebutuhan terhadap agama ada di father complex. Seorang
Bapak yang berkuasa, adil dan pengasih hal ini menjadi hidup kembali di dlm
sosok figur Tuhan. Oleh sebab itulah umat Nasrani paling merasa genah dan
cocok dimana mereka diperkenankan untuk menyapa Sang Pencipta dengan
panggilan nama "Bapa". (Totem and Taboo - 1913)

Sigmund Freud dilahirkan 150 th yang lampau tepatnya pada tgl 6 Mei 1856 di
Morovia. Nama dia yang sebenarnya adalah Sigismund Schlomo Freud. Ia lahir
dari keluarga Yahudi. Memiliki dua kakak tiri dan tujuh adik kandung. Dimana
empat adik perempuannya dibunuh oleh Nazi (Hitler). Ia sendiri berhasil
melarikan diri ke London. Buku-buku hasil karyanya dibakar oleh Nazi di th
1933.

Berdasarkan analisanya sendiri, ia mengakui bahwa pada masa kanak2nya ia
pernah mengidap Odipus Kompleks. Dimana ia mencintai ibu kandungnya sendiri
dan cemburu terhadap ayahnya. Oleh sebab itulah ia menilai setiap anak
sekitar usia 5 tahun akan mengalami nasib yang serupa seperti dia.

Pada awalnya ia ingin melanjutkan studinya dalam bidang hukum, tetapi
mengalami kesulitan karena adanya tekanan dari golongan antisemit. Akhirnya
ia mengambil jurusan medis.

Ia pernah mengadakan penelitian mengenai kokain (sabu-sabu) dimana ia
sendiri yang dijadikan kelinci percobaannya. Akhirnya ia jadi kecanduan. Hal
ini diakuinya dalam surat pribadi yang ditujukan kepada tundangannya Martha
Bernays. Bahkan banyak musuhnya yang menilai bahwa kebanyakan hasil karya
Freud itu ditulis pada saat ia sedang dalam keadaan ON. Jadi mirip dengan
mang Ucup baru bisa nulis kalau sedang dalam keadaan mabok githu. Hasil
studinya Freud mengenai Kokain pernah pernah ditulis di th 1887 dengan judul
"Ueber Coca"

Ia pernah mencoba menganalisa dirinya melalui biographi yang ditulisnya
sendiri. Walaupun demikian diketahui, bahwa ia sendiri telah memusnahkan
biographinya minimum dua kali di th 1885 & th 1907 sehingga sedikit yang
kita ketahui mengenai masa remajanya.


Melalui pasiennya yang disebut Anna O - nama aslinya Bertha Pappenheim, ia
menemukan terapi kongkouw (talking cure). Agar bisa kongkouw dengan santai
maka disediakan sofa dimana pasiennya bisa kongkouw sambil berbaring begitu.
Original sofa Freud masih bisa dilihat di Museum Freud di Wien.

Ia sendiri pernah mendapatkan kritikan keras dari kaum feminist atas
teorinya dimana ia menilai bahwa perempuan itu sebenarnya adalah makhluk
pria yang dikebiri, karena tidak memiliki penis. Hal inilah yang
mengakibatkan kaum perempuan itu selalu memiliki perasaan iri terhadap penis
pria yang disebutnya sebagai Penisneid (Penisenvy).

Ia juga menilai bahwa setiap manusia di kolong langit ini didorong oleh dua
instink utama ialah disatu pihak ingin tetap bisa hidup terus yang berkaitan
dengan sex (Eros), tetapi dilain pihak juga siap untuk mati - thanatos
(Thanatos = nama dewa maut Yunani).

Freud adalah perokok berat serutu, hingga akhir hayatnya ia masih saja tetap
merokok. Pada tahun 1922 diketahui bahwa Freud menderita kanker. Ia telah
menjalani operasi hingga 30 kali walaupun demikian tidak bisa disembuhkan.
Pada tgl 23 Sep 1939 melalui Dr pribadinya Dr Schur ia minta di euthanasia
(dibunuh) melalui suntikan morphin yang overdosis.

Mang Ucup
Email: mang.ucup@...
Homepage: www.mangucup.net

Mengenal Sejarah PKS

Aslm. saya dapat ini dari milis majelis muslim muda Bandung. tentang beberapa catatan mengenai pimpinan PKS saat ini. Ada yang mau klarifikasi ???? Just wanna know. No hard feeling.

- Sorong -

============================================================

Mengenal Sejarah PKS

Soeripto ------------------------

Adalah kader Milsuk (Militer Sukarelawan) dan intelijen binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono atau Wahono), tetapi secara kronologi mengaku ditarik Kharis Suhud (Kodam Siliwangi) pada tahun 1967 - 1970 dan secara struktur komando berada dibawah Yoga Sugama yang saat itu dikomandani Sutopo Yuwono. Sebagai kader intel Soeripto berada satu level dengan Agum Gumelar (Satu-satunya jenderal TNI yang pernah menyatakan diri akan bergabung dgn Partai Keadilan, namun sehari kemudian pernyataan tsb diralatnya sendiri bahwa yg dimaksudnya partai Keadilan adalah Pertai Keadilan dan Persatuan / PKP dibawah pimpinan Edy Sudrajat). Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun 1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan- segan nekad mengklaim mewakili KADIN ketika berkunjung ke China agar dapat sambutan dan fasilitas istimewa dari pemerintah China.

Harokaha Ikhwanul Muslimin atau Harakah Tarbiyah --------------------------------------------------------------------- -------------

Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984. Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985. Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan tsb sekalipun alasan kepergiannya kesana Helmi mengatakan untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung. Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkanbendera gerakan IM-Ikhwanul Muslimin di Indonesia seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal dan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia. Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan Al-Hikmah di kawasan Jl.Bangka Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka, serta Yayasan Nurul Fikri di kawasan Depok. Bahkan Helmi sempat diisukan dipecat atau dima'zulkan kehabitat lamanya (NII), ada juga isu yang menyebut Helmi telah bergabung ke kelompok Syi'ah. Akan tetapi pada kenyataanya Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan sebenarnya tetap menjadi orang nomor satu dan terpenting dalam kelompok gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin ini, hanya mungkin di masa kini keberadaan namanya dirasa perlu untuk sementara waktu secara resmi ditarik dari peredaran gerakan Ikwan, bahkan nama Helmi Aminuddin tidak diakui keberadaanya oleh para elite dan komunitas PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang ada sekarang. Mungkin inilah cara mereka menyembunyikan struktur (Siriyyatu Tandzhim) pergerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Kini Helmi Aminuddin mengkonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana diantaranya sebagaian dari Bimantara, dari Timur Tengah serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. Helmi Aminuddin memanage / mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin tsb gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi dengan menjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS (Partai Keadlian Sejahtera).

Meskipun terbentuknya PKS ini menuai pro dan kontra ditubuh gerakan Ikhwan, tetapi melalui Musyawarah Syuro mereka perubahan menjadi partai PK saat itu mendapat mayoritas suara, sehingga secara resmi gerakan Ikwan telah berubah menjadi partai (Partai Keadilan). Di tahun 1987 - 1988 aparat intelejen memang sedang getol menggarap dengan serius dengan memberi peluang bagi lahirnya dua kubu kekuatan dakwah yang mengatasnamakan Islam namun secara subtansi saling bertentangan, yang pertama adalah kekuatan dakwah Islam Ikhwanul Muslimin Mesir di bawah sponsor dan control tokoh Bakin Soeripto. Sedang yang kedua adalah kekuatan dakwah beraliran NII KW IX Abu Toto yang sesat dan bermisi merusak Islam umumnya dan khususnya melemahkan NII yang sebenarnya, yaitu yg menjadi musuh nomor wahid NKRI. PKS sebagai metamorfosis dari gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia secara resmi berdasarkan konstitusi Pancasila dan UUD '45 walaupun asas partainya Islam. Dalam hal ini Soeripto tetap tidak bersedia menjawab soal hubungan dan kedekatannya dengan Danu Muhammad Hasan di awal Orde Baru maupun dengan sang putra Danu, yaitu Helmi Aminuddin yang disebutnya sebagai ustadz muda (mursyid Ikhwanul Muslimin Asia Tenggara) yang dimulai tahun 1984 selama beberapa tahun di rumah Mas Ton ( Hartono Mardjono) hingga akhirnya berubahn menjadi Partai Keadilan di tahun 1999 dan pada tahun 2003 menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Soeripta sebagai kader BAKIN oleh komunitas Ikhwanul Muslimin Indonesia sangat diyakini telah bersih / tobat dan berasil dibina dan dimanfaatkan oleh elite Ikhwan. Padahal siapa yang dimanfaatkan dan siapa yang memanfaatkan menjadi tidak jelas. Harap diingat bahwa dunia intelejen tidak mengenal apa yang diistilahkan dengan pension, demikian halnya Soeripto, masih belum terbukti pemihakannya terhadap Islam sebagai sebuah kontra RI. Berita diatas pernah diklarifikasi oleh para tokoh dan pengurus PKS secara apologi diplomatis yg dialamatkan ke Majalah Dewan Rakyat melalui Majalah SAKSI. Padahal akurasi data dan informasi tentang berita diatas sebenarnya bias dikonfirmasikan kepada sekitar 15 tokoh yg salah satu diantaranya sudah almarhum, yaitu Bung Hartono Mardjono. Tulisan diatas bukan sebagai fitnah, tetapi sebagai bahan renungan dan penyelidikan bagi setiap muslim dan muslimah yg dengan ikhlas berjuang dalam Islam akan tetapi masih buta hebatnya serta rumitnya dunia intelejen musuh. Saya yakin para ikhwan di PKS banyak yg ikhlash berjuang, tapi keikhlasan tsb sangat disayangkan kalau dimanfaatkan atau dibiaskan musuh. Beberapa ikhwan di PKS pernah bilang kalau sampai tingkat DPC keberadaan ikhwan diragukan, dalam arti sudah banyak intel disana. Namun yang harus diwaspadai bahwa intel itu justeru menyusup lewat atas, langsung menempel kalangan elite atau atasan sehingga bias mempengaruhi kebijakan-kebijakan / langkah-langkah perjuangan. Sebagai contoh dikalangan ikhwan PKS sudah sangat kental dikenal dan difahami kalau dalam dunia politik sekarang adalah kondisi yg pada jaman Rosulullah tidak dialami, sehingga dengan bermetamorfosisnya Tarbiyah IM menjadi Parpol adalah suatu ijtihad yg tidak melanggar syar'I dan meminimalisir pertumpahan darah. Tapi bisa jadi itulah salah satu pengaruh kebijakan intel untuk menumpulkan ghiroh dan membelokkan cita-cita perjuangan Islam secara perlahan. Tapi jangan salah menilai bahwa perjuangan Islam itu harus radikal dan membabi buta, itu salah !!! akan tetapi belajarlah dan pelajarilah sejarah .

Wallohi a'lam bi shawab

Yang benarnya dari Allah dan kesalahan semata-mata datang dari kelemahan saya

Wassalaamu'alaikum wr.wb.

Perang Padri yang Tak Anda Ketahui

Perang Padri yang Tak Anda Ketahui


H Rosihan Anwar

Perang Padri (1821-1838) di Minangkabau. Anda biasanya menghubungkannya dengan pemimpin kaum Padri, yaitu Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) yang melawan penjajah Belanda, tetapi akhirnya dikalahkan, menyerah, dan dibuang ke pengasingan mulanya di Priangan, lalu di Ambon, kemudian di Manado tempat dia meninggal dunia tahun 1864.

Gerakan Padri menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium, narkoba), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.

Anda niscaya tahu lebih banyak tentang Perang Padri apabila rajin membaca buku sejarah. Kendati begitu, masih juga ada segi-segi peperangan itu yang Anda tak tahu.

Saya membaca buku dalam bahasa Belanda, Het einde van de Padrie-oorlog. Het beleg en de vermeestering van Bonjol 1834-1837. Een bronnenpub licatie (G Teitler, 2004). Di situ terdapat empat sumber berupa surat, laporan, data, dan jurnal. Di situ terdapat data sejarah, tentu dari perspektif Belanda, tetapi menarik.

Perwira inlander

Belanda menyerang benteng kaum Padri di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku (kelompok etnis), seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira yang berada di depan Bonjol dapat dibaca Letnan Kolonel Bauer, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.

Dalam jurnal ekspedisi, Mayor Jenderal Cochius ke Padang tanggal 1 April 1837 bersama Bonjol. Juga ikut serta 148 Europeesche officieren, 36 Inlandsche officieren, 1.103 Europeanen, 4.130 Indlanders, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen.

Yang dimaksud dengan belakangan ini adalah pasukan pembantu Sumenap alias Madura. Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, maka jurnal menyebutkan antara lain ”orang-orang Bugis berada di bagian depan menerjang pertahanan Padri”.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Africanen 1 sergeant, 4 korporaals en 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, dewasa ini negara Ghana, Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

Apa artinya ini? Konsep dalam Sumpah Pemuda 1928: Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa yaitu Indonesia masih jauh panggang dari api. Untuk menegakkan kekuasaannya di Nusantara, Belanda melaksanakan asas Divide et Impera. Pecah belah dan perintah orang Jawa, Bugis, Madura, dan Ambon untuk menghantam serta menewaskan orang Minang, tidak ada masalah. Kesadaran berbangsa Indonesia belum ada. Tapi, gambaran lain ada dalam kasus Ali Basya Sentot, panglima perang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).

Sentot dan Imam Bonjol

Dalam jurnal tanggal 25 April 1837 diceritakan bahwa Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Ali Basya Sentot dengan kehadirannya di Sumatera.

”Inlander ini yang dulu sangat kita hormati tiba-tiba melakukan pengkhianatan. Dia berkhayal mengepalai penduduk Melayu dan bertujuan mengusir berstuur Eropa, dengan perkataan lain membunuh semua orang Eropa. Dia telah menjadi korban kejahatannya karena orang-orang Melayu seperti diketahui mempunyai kejengkelan yang sama banyaknya terhadap orang-orang Jawa maupun orang Eropa,” tulis Mayor de Salis.

Sebagaimana diketahui, Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Maka, tatkala Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Padri tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari legiun Sentot yang telah membelot itu.

Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan (konspirasi) dengan kaum Padri. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Legiunnya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia.

Cerita tentang Tuanku Imam Bonjol terdapat dalam catatan jurnal 6 Mei 1837. Seorang perempuan M, lahir di daerah Mandailing, melarikan diri dari Bonjol dan menyeberang ke pihak Belanda. Dia bercerita pernah tinggal di rumah Tuanku Imam Bonjol. Dia lari lantaran harus bekerja terlalu keras sedangkan makanannya sangat sedikit, hanya terdiri dari ubi.

Tuanku Imam Bonjol, katanya, sedang memulihkan kesehatannya dari luka-luka yang diperolehnya. Tuanku punya tiga istri dan empat selir. Salah satu istrinya ditembak mati bulan Desember yang lalu. Sedangkan seorang istri lain yang dikatakan dulu telah mati ternyata hanya mengalami luka-luka. Salah satu selirnya mau melarikan diri, tetapi dikejar oleh putra Tuanku Imam Bonjol, yaitu Sutan Sedi, dan dibunuh.

Saya tidak tahu Tuanku Imam Bonjol beristri begitu banyak. Anda juga tidak tahu?

Selanjutnya dicatat Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang, Tuanku Danau, Tuanku Kali Besar, Haji Mahamed, dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang.

Di gunung, yang memberi perintah ialah Tuanku Haji Be Di Bonjol dan terdapat enam meriam. Kebanyakan rumah sudah terbakar, hanya beberapa rumah dekat pegunungan yang masih berdiri. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. Residen Belanda, menurut catatan tanggal 7 Juni, mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku akan datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Tapi perundingan tidak terlaksana. Sebab, Belanda berpendirian bahwa Tuanku Imam Bonjol harus menyerah tanpa syarat.

Doebelang Arab

Belanda memang bersikap keras. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang.

Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Belanda balas dendam. Kol Elout memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang muncul. Atas perintah Kolonel, ke-13 orang itu digantung semua.

Tindakan ini di mata orang-orang Melayu sangat menurunkan derajat Belanda.

Selain penduduk Bonjol, terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Padri dan seorang perempuan Sumenep. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto.

Seterusnya ada Bagindo Alam, Doebelang Alam, dan Doebelang Arab. Menurut jurnal, Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda.

Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim. Sebuah kisah human interest ialah tentang pasar Sungai Puar. Kaum perempuan yang mengunjungi pasar, bila memakai tutup kepala berwarna merah (rode kap, kata penulis Belanda), maka itu adalah tanda bahwa perempuan itu sudah memasuki usia kawin dan masih perawan.

Perempuan lain memakai tutup kepala warna merah dan putih, atau biru dan merah. Asal tahu saja.

H Rosihan Anwar Wartawan Senior

Perang Padri - Oleh Abdul Qadir Djaelani

[Urangawak] Perang Padri - Oleh Abdul Qadir Djaelani
Wady Afriadi

Sat, 01 Apr 2006 08:38:16 -0800

PERANG PADRI
Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam
abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa periode, yaitu:

(a) Periode 1809 - 1821
Periode ini adalah merupakan pembersihan yang ditakukan oleh kaum
Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan
bertentangan dengan syari'at Islam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran
antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat.

(b) Periode 1821 - 1832
Periode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan
Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam
masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial
Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para
penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan
eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum
Padri.

(c) Periode 1832 - 1837
Periode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat,
dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah bersatu melawan
penguasa kolonial Belanda-Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat
dengan dipelopori dan dipmimpin oleh para ulama yang tergabunig dalam kaum
Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial
Belanda-Kristen dari Sumatera Barat.

Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi
yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang
ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703--1787). Nama gerakan
Wahabi sesungguhnya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang
baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih
senang dan menamakan dirinya sebagai kaum 'Muwahhidin' yaitu kaum yang
konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran
Islam.

Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain:
(a) Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah se-mata; dan siapa saja yang menyembah selain Allah, adalah musyrik;
(b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para wali, syeikh atau ulama dan kekuatan ghaib yang di-pandang memiliki dan
mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan;
(c) Menyebut-nyebut nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam berdo'a adalah termasuk perbuatan syirik;
(d) Mengikuti shalat berjamaah adalah merupakan kewajiban;
(e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram;
(f) Memberantas segala bentuk kemunkaran dan kemaksiatan;
(g) Umat Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan
berlebih-lebihan diharamkan.

Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar merupakan tenaga
penggerak yang sanggup membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang
sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu oleh para
sahabatnya seperti Ibnu Sa'ud dan Abdul Azis Ibnu Sa'ud, pemikiran dan
cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun
1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia
dengan ibukotanya Riyadh.

Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari
Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima
Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang
bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke
Sumatera Barat.

Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di
Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan
ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di
daerahnya masing-masing mereka mencoba memberikan fatwanya. Haji Muhammad
Arifin di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa
pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya
dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di
Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan.

Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini
ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu
Tuanku Nan Renceh di. Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang
Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto
Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai'ah (berjanji
sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang
berbai'ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan
'Harimau Nan Salapan'.

Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil
bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih
berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku
Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai
Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi 'imam' atau pemimpin
gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo
menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan
segera menjalankan syari'at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan.

Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat
apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang,
tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya
ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang
ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan
pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang.
Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo
dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak
mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan
ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak
Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni
guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di
Man-siangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan
Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo.

Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya
sendiri, sulitlah bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang
gerakan ini. Padahal hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan
Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya
sebagai simbol belaka.

Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai
lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan
nama 'Gerakan Padri'.

Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan
Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol
dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan
gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari'at Islam
secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh
kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para
penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak
ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena
Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang
harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik.

Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya
gerakan Padri ini, ingin mem-buktikan sampai sejauh mana kemampuan para
alim ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari'at Islam
secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di
lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan
penyabungan ayam, main judi dan minum-minuman keras yang diramaikan
dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikut-nya
seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya
untuk betul-betul melaksanakan syari'at Islam secara keras.

Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri.
Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti 'setengger'
(senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya
kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta
'maksiat' yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa).
Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan
per-tempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan
mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak,
akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit
Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri.

Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan
Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi
persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah-daerah yang
menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan,
kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah
berada di tangan kaum Padri.

Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan
Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan
pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber-ada di dalam kekuasaan
kaum Padri.

Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan
yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan
untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya
ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo,
sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para peng-hulu
berada di bawah pengaruh para ulama.

Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan
damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada
kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri.

********

Perang Padri 2/6

Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah-daerah yang berada di dalam
kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap
nagari diangkat seorang 'Imam dan seorang Kadhi'. Imam bertugas memimpin
peribadahan seperti sembah-yang berjam aah lima waktu sehari semalam,
puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi
bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari'at Islam dalam arti
kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum.

Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin
di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di
sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan
penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat
kekuasa-an adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang
dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah.

Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga
orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu :
(a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang
kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau.
(b) Raja Adat, adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah adat.
(c) Raja Ibadat adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah agama.

Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh
Basa Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan
Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah :
- Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga
orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri;
- Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan
dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya;
- Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat;
- Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari'at
atau agama.

Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh
yang bertindak sebagai Panglima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah
bersama pasukannya untuk mengamankannya.

Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat
dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat
otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat
diselesaikan oleh kepala nagari melalui kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana dengan kabupaten sekarang). Kalau masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjutnya diteruskan ke Raja Adat atau Raja Ibadat, tergantung pada masalahnya. Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan oleh Raja Minangkabau.

Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minangkabau dan stafnya dianggap
satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka.
Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang
yang telah turun-menurun akan lenyap, jika kaum Padri berkuasa.

Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan
pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah
satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang-kabau dari Luhak Agam,
sering berpindah tangan, terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang
dapat di-rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri
makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama
makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu,
akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai
mengadakan perundingan dengan kaum Padri.

Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808,
sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri
dalam perundingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan
seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dipimpin oleh Raja
Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam
pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan
senjata telah disepakati sebelumnya.

Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan
dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama
Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak menjadi
perkelahian dan pertumpahan darah.

Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarganya mati terbunuh
dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan
seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan.
Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan
tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan
pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah
di-sepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian.

Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah
kepada kaum Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di
Koto Tangah.

Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah
memerintahkan salah seorang muridnya yang bernama Malin Basa atau Peto
Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat,
sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin Basa, yang kemudian
bergelar Tuanku Mudo untuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat
gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang
murid yang pandai, alim dan berani.

Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan
guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan
keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di
kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam
yang tinggal di sekitar Alahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak
kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit
Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya
kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi
tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami
pagar aur berduri yang sangat rapat.

Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang
lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat
mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup
sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga
diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna setiap saat siap
menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku
Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang
sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tuanku
Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'.

Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap berdiri,
Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan
Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol
dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang
seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para
penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut
benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu
benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk
mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya
perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol.

Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia
kemudian diangkat menjadi pemimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk
meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke
daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh
pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan
seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara.

Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan
untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di
Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau.
Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum
Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil,
tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah-daerah disini begitu
setia untuk menjalankan syari'at Islam secara penuh, sesuai dengan
misi yang diemban oleh gerakan Padri.

Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah
pesisir barat Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku
Pamansiangan salah seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam
Bonjol untuk menarik pasukan Padri dari Tapan uli Selatan dan menggempur
kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah
terima kekuasaan dari Inggeris (1819). Tetapi perwira-perwira Padri
seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan
berkebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol
hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui
kurir-kurir yang sengaja dikirim ke sana.

Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis
adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah
membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah ter-sebut. Dalam menghadapi
serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli
Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk
menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao
gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan
pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.

Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi
pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama
ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu
Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk
memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan
Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda
di Padang yang bernama Du Puy.

[Abdul Qadir Djaelani]
BERSAMBUNG

Kenapa aliran Syiah kok "tidak laku" di Indonesia?

Beberapa tahun lalu, di layar televisi kita menyaksikan sosok lelaki tua
berjanggut putih. Dialah Ayatullah Khomeini asal Iran yang kembali ke
kampung halamannya setelah bertahun-tahun mukim di Paris, Prancis.
Sebelumnya, pada 3 Desember 1978, UUD Republik Islam Iran diresmikan.
Pada 14 Januari 1979, Shah Iran membentuk Dewan Kerajaan. Namun Imam Khomeini yang saat itu tengah berada dalam pengasingannya di Paris, mengumumkan pemerintahan baru revolusioner akan segera dibentuk. Maka bubarlah
Dewan Kerajaan tersebut. Shah Iran Pahlevi yang menjadi boneka Amerika Serikat
akhirnya turun tahta. Sistem despotik pun tergulung tanpa sisa. Kemudian pada 1980 terjadi perang perbatasan antara Iran dan Irak yang didukung oleh AS.

Di layar kaca pula kita bisa menyaksikan surban kepala yang dikenakan para pemuka agama Islam aliran Syi'ah - sekilas mirip 'ubel-ubel' yang dikenakan Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol. Kini ramai dibincangkan nama kelompok Hizbullah di Lebanon dan Ahmadinejad. Mereka semua adalah dari aliran Syi'ah. Nah, dari berbagai berita yang menyorot konflik di Timur Tengah itu paling tidak kita jadi
tahu perbedaan antara kaum Syi'ah dan Sunni.

Kini yang menjadi pertanyaan, kenapa aliran Syiah (Shia) kok "tidak laku"di Indonesia? Apa sebabnya? Kenapa yang akhirnya berkembang luas hanya Islam aliran Sunah (Sunni) saja? Kok bisa begitu? Bagaimana sejarahnya?

Jawabanya: Aliran Syi'ah yang sebenarnya pertama kali masuk ke wilayah
Nusantara ternyata kalah bersaing dengan aliran-aliran lainnya. Islam dalam
sejarahnya di Indonesia, antara satu aliran dengan aliran lainnya saling bersaing secara tak sehat untuk menjadi yang paling benar ajarannya dan paling dominan kekuasaannya. Untuk menekan kelompok lainnya dihalalkan dengan melalui jalan kekerasan, teror, dengan dengan saling bunuh-bunuhan.

Tak heran kalau muncul tudingan dari satu aliran ke aliran lain: kelompok ini "sudah islam tapi kurang islami", kelompok itu sesat, kelompok anu harus mengganti nama - jangan bawa panji-panji Islam (seperti baru saja dialami Ahmadiyah) - dan lain sebagainya. Atas nama aliran yang mereka percayai, mereka boleh berbuat apa saja,
tak peduli bahwa langkah itu justru merugikan citra Islam secara keseluruhan.

Islam diperkirakan mulai merembes ke wilayah Asia Tenggara mulai abad
ke-12, namun hanya terbatas di beberapa wilayah tertentu saja. Hindu dan Budha
kala itu masih kuat. Aliran yang mulai punya pengikut adalah aliran Syiah, Syafi'i
dan Hanafi. Aliran agama Islam berdasarkan fiqh itu biasa disebut dengan istilah madzhab.

Syi'ah vs Syafi'i di Aceh

Aliran Syi'ah - artinya "partai" atau "golongan" - dibawa oleh para pendakwah yang mengikuti perjalanan saudagar Gujarat, Persi, dan Arab. Kala itu aliran Syi'ah memang berkembang di Persia dan Hindustan. Pertama kali memasuki Perlak dan Samudera Pasai (kini Aceh) atas dukungan penuh dari dinasti Fathimiah di Mesir. Tentara dari dinasti itu juga ikut mengawal kapal-kapal dagang. Semenjak dinasti Fatimiah rontok pada 1268, terputuslah hubungan antara kaum Syi'ah di pantai timur Sumatra dan kaum Syi'ah di Mesir.

Pada 1284, timbullah dinasti baru di Mesir berjuluk Mamaluk yang beraliran Syafi'i.
Dinasti Mamaluk mengirimkan pasukan yang dipimpin Syaikh Ismail ke pantai
timur Sumatra untuk memusnahkan aliran Syi'ah setempat. Target utamanya
adalah untuk melenyapkan pengikut Syi'ah di kesultanan Perlak dan Pasai.
Syaikh Ismail berhasil membujuk Marah Silu yang Syi'ah untuk menyeberang
ke aliran Syafi'i. Dua pengikut Marah Silu, Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut memeluk aliran Syafi'i. Mereka lalu berganti nama menjadi Sidi Ali Chiatuddin dan Sidi
Ali Hasanuddin.

Sebagai catatan, aliran Syafi'i dirintis oleh Muhammad ibn Idris as-Sayfi'i, lahir pada
tahun 767. Syafi'i mengajarkan alirannya di Baghdad, kemudian di Mesir.
Dinasti Mamaluk menobatkan Marah Silu menjadi sultan pertama kesultanan
Samudera dengan gelar Malikul Saleh. Selama sultan berkuasa, pengikut Syi'ah ditindas. Atas dukungan armada Syaikh Ismail, Marah Silu berhasil menggempur dan
menguasai kesultanan Pasai. Sepeninggal sultan Malikul Saleh, pada 1295 aliran Syi'ah mendapat angin baru di kesultanan Aru/Barumun, yang dipimpin oleh Malikul
Mansur, putra Malikul Saleh.

Catatan: Marah Silu sebelumnya penganut Hindu. Lalu diislamkan oleh Syi'ah,
kemudian berhasil dibujuk oleh Dinasti Mamaluk untuk mengikuti aliran
Syafi'i.

Di antara para penganjur aliran Syi'ah yang utama di pantai timur Sumatra ialah darwis dan penyair Hamzah Fansuri dari Baros dan ahli sufi Syamsuddin al Samatrani pada masa pemerintahan sultan Iskandar Muda. Aliran Syi'ah di kesultanan Aceh itu pun kemudian dibasmi oleh para pengikut aliran Syafi'i yang dipimpin oleh Syaikh Nurrudin
Ar-Raniri. Nurruddin adalah seorang ahli sunnah asal Gujarat yang mukim di Aceh sepeninggal sultan Iskandar Muda. Kitab-kitab ajaran tasawuf wujudiah (ajaran emanasi) yang berkonsep "saya adalah Tuhan" (ana al-haqq), dimusnahkan dengan cara dibakar.

Syafi'i di Malaka

Berkat perkawinan putri sultan Zainul Abidin Bahian Syah dari Samudera/
Pasai dengan sultan pertama Malaka Parameswara, aliran Syafi'i berkembang
pesat di pantai barat Semenanjung. Parameswara ikut aliran Syafi'i dan
berganti nama menjadi Megat Iskandar Syah pada 1414. Parameswara adalah
pangeran terakhir dari kerajaan Sriwijaya yang dulunya beragama Budha.

Syi'ah vs Wahabi di Minangkabau

Aliran Syi'ah menjalar dari Aceh ke daerah Minangkabau, yang persebarannya
dimulai sejak 1128. Pada waktu itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan
gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk
menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi
pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang
menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di Mesir.
Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut ke bandar
Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.

Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai
mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra
sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan
Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar
didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama
di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun
temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan
Tuanku Burhanudin Syah.

Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang,
Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama.
Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan,
ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801, gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan Hasan
Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi
di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil
merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan
Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal
di dunia internasional.

Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki
Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang
asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut
segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya.
Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di Minangkabau.

Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi'ah
dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri.
Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris
tak tersisa.

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan
keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru
tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal
kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama
asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat
menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning
Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan
Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada
tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

1820

The Paderi-movement stirred whe Minangkabau region as well as the
region of the Batak. From 1820 the southern Batak area was conquerred
from Bonjol by Minangkabau. The most renouned leader of this holy war
was Tuanku Rao, a Batak which converted to the militant islam. He lead
the Paderi-group which forced portions of Mandailing- and Ankola areas
to the islam. It seems that Tuanku Rao has lead his troops even more
north, where he tried to convert the Batak around Danau Toba
(Lake Toba), but he didn't succeed in that. European efforts to
convert Batak to Catholicism didn't work out initially. Only halfway
the 19th century some progress was made here.

From 1820 to 1841 the Dutch gradually conquerred the Minangkabau area
and they also built strategical fortresses in the highlands. Because
of this the most densely populated area of Sumatera also became Dutch
property. The garrisons were paid by the obliged delivery of coffee
at fixed prices. There was no shortage of land, so the active
Minangkabau also started to produce their own coffee, tea, tobacco,
sugar and gambir, so they could use the improving communication and
the growing markets. This caused the growth of a wealthy middle-class
traders.

This group of people reacted enthousiastically on efforts of the
Dutch to give the Indonesians some modern education. In 1840 they
started to found their own schools. Against 1872 almost 1200
Minangkabau-children went to school, much more than on Jawa, where
education was a privilege of the aristocracy. This first generation,
which was fluent in Jawi (Malay-Arabic language) as well as latin
writing, caused Indonesia to have big numbers of civil servants in the
20th century, as well as political activists, teachers and journalists.

Syi'ah dan Syafi'i di Pulau Jawa

Di Pulau Jawa, aliran Syi'ah mulai mendapat pasaran sejak berdirinya
kesultanan Pajang pada pertengahan abad-16 di Jawa Tengah. Sebagai sultan
pertama adalah Joko Tingkir (Sultan Hadiwijoyo). Wali Syaikh Siti Jenar atau Syaikh
Lemah Abang adalah penganjur utamanya. Akibat ajarannya Syaikh Siti
Jenar dibakar hidup-hidup oleh para wali lainnya.

Syi'ah juga dipandang 'mbalelo' karena tak mengakui keimanan dinasti
Abasiyah dan Umayah yang aliran Sunni.

Sementara usaha untuk memperluas aliran Syafi'i di pulau Jawa sampai akhir
abad ke-15 tidak berhasil. Syaikh Maulana Ishak ditugaskan ke pulau
Jawa. Ia singgah di Ngampel Denta dan bertemu dengan Sunan Ngampel.
Dalam Serat Kanda dinyatakan dengan jelas bahwa Syaikh Ishak mendapat
tugas untuk mengislamkan wilayah Blambangan, namun usaha itu tidak
berhasil. Kemudian, ia kembali ke Malaka. Menurut Serat Kanda, Syaikh
Ishak adalah paman Raden Rahmat alias Sunan Ngampel. Sedangkan Sunan
Ngampel adalah pendatang dari Campa, putra Bong Tak Keng, dan aliran
yang diikutinya ialah Hanafi.

Hanafi di Pulau Jawa

Islam aliran Hanafi berkembang di kesultanan Demak. Pada 1526, sultan
Demak mengirim armada untuk menyerang Sembung (Cirebon) dan Sunda Kelapa
(kini Jakarta). Armada Demak dipimpin oleh Fatahillah (Falatehan).
Kin San alias Raden Kusen yang berusia 71 tahun ditunjuk sebagai juru
bahasa.

Karena agama Islam di pantai utara Jawa adalah aliran Hanafi, maka agama
Islam itu tidak disebarkan melalui Selat Malaka dan rembesan dari Sumatra,
baik menurut jalur pelayaran lama maupun baru. Penyambungnya adalah orang-orang Tionghoa, bukan langsung dari Turkestan, Bokhara dan Samarkand, dimana titik awal
aliran Hanafi berkembang luas.

Kesimpulan:
- Islam yang masuk ke Indonesia pada awalnya adalah dari berbagai macam aliran,
bukan satu aliran saja.
- Masuknya Islam ke Indonesia tidak semuanya dengan jalan damai, tapi melalui
perebutan kekuasaan dan perang. Hal ini akibat keterkaitan yang erat dengan
gerakan Islam politik.
- Walau sesama pemeluk Islam, namun karena berbeda aliran, bisa saling
menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara.
- Munculnya kesultanan-kesultanan Islam di wilayah Nusantara disponsori
oleh kekuatan asing di Timur Tengah dan Turki, serta peran serta komunitas
China muslim yang sudah lama mukim di Nusantara.

Kini mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Islam beraliran Sunni, dimana
aliran lain tidak bisa berkembang dengan baik.

Sumber:
Sebagian dicuplik dari buku "Runtuhnya Kerajaan Hindu dan timbulnya
negara-negara Islam di Nusantara" karya Prof. Dr. Slamet Muljana
(penerbit LKis, Yogyakarta)

Apabila Anda ingin memiliki buku tersebut silakan kirim email ke:
elkis@indosat.net.id

(saya beli di Toko Buku Kalibata seharga Rp 37,000)

Sejarah Islamisasi Minangkabau dan Tanah Batak

Terima kasih, Pak Batara, kisahnya amat menarik, walau cuma singkat saja.
Bagaimana ya cara mendapatkan buku itu? Saya coba ke Gramedia tidak ada.
Harapan saya, semoga kisah ini dapat ditambahkan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Intinya, penyebaran agama langit (samawi) - baik itu Islam maupun
Kristen (Katholik/Protestan) - di Nusantara dan di manapun di pelbagai
pelosok dunia sebenarnya tidak berjalan dengan damai, tetapi penuh
pertumpahan darah dan jalan kekerasan. Dan itu terjadi di semua wilayah. Dengan memahami kisah sejarah yang sebenar-benarnya, tanpa ditutup-tutupi, semoga kita
semua bisa lebih arif dalam meniti perjalanan di masa depan.

Juga perlu sedikit untuk memperjelas, ketiga haji yang mengislamkan
wilayah Minangkabau sebelumnya beraliran Hanafi karena mereka ikut
pasukan Turki yang menduduki Makah. Kemudian ketiga haji tersebut
diindoktrinasi aliran Wahabi, lalu melanjutkan perjuangannya untuk
mengislamkan Sumatra Barat. Akan lebih menarik apabila ada kisah semasa
Sumatra menganut Hindu. Sepertinya peninggalan Hindu/Budha di Sumatra
sudah musnah tak bersisa ya?

Biar lebih lengkap, kalau bisa ditambahkan riset pustaka di Belanda. Mungkin rekan-rekan kita seperti Oom Danny Lim, Mang Ucup, Ida Khouw, teman-teman di Ranisi, dan lainnya yang mukim di Belanda bisa membantu. Soalnya kalau saya baca di catatan kaki, pak Parlindungan Siregar hanya akan meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater Hutagalung untuk memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut. Relevansinya apa ya pak sederet tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pengislaman di Minangkabau dan pengislaman/pengkristenan di Tanah Batak (Sumut)?

Juga ingin saya tambahkan, jauh sebelum masuknya aliran Hambali di
Minangkabau, pada 1128 telah menyebar aliran Syi'ah yang menjalar dari
Aceh. Jadi sekira 700 tahun sebelum terjadi Perang Paderi. Pada waktu
itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut ke bandar Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.

Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai
mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra
sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan
Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar
didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama
di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun
temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan
Tuanku Burhanudin Syah.

Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang,
Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama.
Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan,
ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan
antara golongan kaum adat, penganut aliran Syi'ah dan para pengikut
gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Hindu dan
kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801,
gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil
merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan Hasan
Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi
di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil
merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan
Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal
di dunia internasional.

Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki
Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang
asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut
segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya.
Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di Minangkabau.

Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat, penganut Hindu, penganut aliran
Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri.
Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum adat, umat Hindu, dan pengikut
aliran Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa.

salam,

RD

_________________________________________________________________

Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak
oleh: Batara R. Hutagalung

Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di
Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari
kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini
adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara
kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia
Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut
masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa
budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu),
yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya
agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh
pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.

Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang
ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan
antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik
bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat
meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka
pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.

Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya
berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang
Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian
mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di
beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.

Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama
asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.

Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat
sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang
dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat
yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat
agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri
sampai Malaya.

Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga
Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil
incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga
Singamangaraja X.

Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering
melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain,
sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba
Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan
terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan
penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan
keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja
Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu-
sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat
yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut,
harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya
serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.

Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di
tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak
diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh
anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke
tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga
dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang.
Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan
sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk
semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja
Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819,
ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di
bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala
Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan
ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja.

Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari
Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang
Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja
IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian,
Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana
Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.
Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun
terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi
dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak
mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela.
Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga
Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini.

Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela,
yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam
suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual"
kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga
Simorangkir.

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu
(tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka
meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh
pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus
dibunuh.

Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati
atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa
Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan
ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan
badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam.

Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan
terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia
melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan
satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian
Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu,
karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana
Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.
Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke
tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan
batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu
Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian
di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong
Marpaung.

Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok,
Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena
selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah
dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo
sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab
Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali
dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di
Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji
Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki.
Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang
mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali,
termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.

Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo,
mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia
memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan
Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari
Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana
merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta
kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan
kepadanya untuk dididik olehnya.

Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat
Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama
Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama
seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal
usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca:
Batak!

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan
keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru
tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal
kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama
asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat
menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning
Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan
Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada
tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan
Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran
pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia
diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao.
Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera
seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah
Batak.

Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H
(tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang
dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda
ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan
seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman
ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan
rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu
wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin
oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak
sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah
masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku
Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku
Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku
Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku
Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali
Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku
Marajo (Harahap).

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan
tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh
Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah
Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan
Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang
Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia
lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan
Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan
pedang di atas kuda.

Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan
kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah
dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X
ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang
marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra
Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra
Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk
kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan
terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di
tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara,
termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya
penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara
Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar
30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di
medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.

Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud
menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga
rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun
Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya
tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda.
Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan
pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan
sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.

Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing,
Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan
Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing
dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang
sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang
gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku
pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah
ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada
Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya
sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.
Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku
Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada
Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan
kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan
dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan
Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.

Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September
1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal
kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti,
salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4737

---------------- -----------------------------
Catatan:
Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh
Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan
Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di
Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964.

Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja
Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja
Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh warisan
sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari Willem
Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman.

Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya.
Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban
yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) T.Bonar
Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah
Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan
Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan
Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater
Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku
tersebut.