Rileks Sejenak

FRIENDLY

Wednesday, October 04, 2006

Pengerahan Pasukan Kostrad Mei 1998 Versi Kivlan Zein

Pengerahan Pasukan Kostrad Mei 1998 Versi Kivlan Zein
Arfi Bambani Amri - detikcom



Kivlan Zein (Foto: Arfi Bambani/detikcom)
Jakarta - Pasukan Kostrad ditebar di sekitar Monas, Istana, dan kediaman BJ Habibie di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, pada Mei 1998. Apakah Pangkostrad saat itu Letjen TNI Prabowo Subianto akan melakukan kudeta terhadap Presiden Habibie? Bagi Mayjen (Purn) Kivlan Zein, pasukan itu bukan untuk kudeta.

Kivlan Zein menceritakan panjang lebar mengenai pengerahan pasukan Kostrad saat detik-detik kejatuhan Presiden Soeharto dan pengangkatan Habibie sebagai presiden saat menjadi pembicara diskusi 'Kontroversi Mei 98' di Institute for Policy Studies, di Jalan Penjernihan IV No 8, Jakarta, pukul 14-18, Selasa (3/10/2006) kemarin. Diskusi ini digelar secara tidak langsung untuk menanggapi buku 'Detik-detik yang Menentukan' tulisan Habibie yang menghebohkan.

Pengerahan pasukan Kostrad ini memang inisiatif Prabowo. "Sejak ada kerusuhan tanggal 12 Mei 1998, peristiwa Trisakti, Prabowo berpikir situasi sudah membahayakan, karena sudah terjadi revolusi. Prabowo memanggil saya. Saya saat itu sedang terkenal flu dan datanglah saya ke Kostrad jam 12 malam. Siapkan pasukan, kata Prabowo," ujar Kivlan.

Prabowo saat itu memerintah Kivlan, karena dia merupakan anak buah Prabowo. Kivlan menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) berpangkat Mayjen. "Urusan logistik, urusan intelijen, penyiapan pasukan dan perintah komando adalah memang urusan kepala staf. Saya pun siapkan rencana operasi," kata dia.

Saat itu, perintah operasi sejak Pemilu 1997 hingga diadakannya SU MPR belum dicabut. Karena itu, semua pasukan yang berada di Kodam tetap disiagakan. "Polisi di-BKO-kan ke Kodam, Marinir, Paskhas di BKO-kan. Jadi, sudah tak
perlu lagi izin dari Mabes ABRI. Kodam yang minta," jelas Kivlan.

Kostrad dapat pasukan dari mana? Sangat banyak. Ada dari Makostrad, Yon 328, Yon Arnudri Serpong, Yon 305, dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Pasukan masih kurang, kita minta datangkan dari Makassar. Saya sendiri yang datang untuk meyakinkan. Kita tidak dikasih Hercules oleh Mabes ABRI. Akhirnya, Kostrad carter Mandala dan Garuda untuk mendatangkan pasukan," kata dia.

Wiranto Larang Pengerahan Pasukan

Tanggal 14 Mei 1998, Kivlan mengaku ditelepon Kasum ABRI, Letjen Fachrurazi. "Eh,jangan kau kerahkan pasukan. Ini permintaan Pangab (Wiranto). Keadaan kacau, Jakarta bakar-bakaran," kata Fachrurazi kepada Kivlan. Namun, Kivlan tetap pantang mundur, sebab Kodam Jaya minta penambahan pasukan.

Pada tanggal 14 Mei 1998 itu, kata Kivlan, Wiranto malah pergi meresmikan PPRC di Malang. "Seharusnya dalam keadaan kacau, tak perlu Pangab ke sana untuk meresmikan PPRC. Cukup Kasum. Sudah saya sarankan, sudah saya tulis. Keadaan kacau, jangan tinggalkan Jakarta," ujar Kivlan.

Berdasarkan strategi perang, kata Kivlan, untuk mengendalikan keadaan dan mempengaruhi keadaan, pertama yang paling penting adalah kehadiran komandan di tengah pasukan. Faktor penting kedua adalah dukungan logistik. "Mengapa kok komandan malah meninggalkan Jakarta?" tanya Kivlan.

Tuesday, October 03, 2006

SELAMAT JALAN MUJAHID.........

SELAMAT JALAN MUJAHID.........



Berkata Rabbul ‘Alamin dalam kitabNya :
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Al-Baqarah:156)
Dengan hati yang ridho tehadap qadha Allah dan taqdirNya, dan jiwa yang tenang terhadap keputusan dan kebijaksanaanNya : Telah sampai kepadaku berita musibah, wafatnya seorang kawan yang shalih, anak yang berbakti pada ibu-bapaknya, bapak yang penyayang, mujahid dan da’i ahlussunnah dan penolong dakwah Islam : Abu Abdullah Walto Whitmanto rahimahullah, pendiri Maktabah Abdullah.

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengenalnya, karena beliau bukanlah seorang ustadz dengan ribuan massa, bukan pula penulis buku-buku best seller, dan bukan pula penceramah kondang. Tapi beliau tidak lebih dari orang dibalik layar.

Hanya saja berkat keuletan dan kegigihannya dalam Islam….. ribuan orang menerima hidayah, ribuan orang mengenal para ulama sunnah dan da’inya, dan tak terhitung banyaknya kaum muslimin yang terselamatkan akidahnya atas keberaniannya. Aku yakin kamu pun pernah menikmati buah karyanya minimal dalam bentuk rekaman2 video ceramah yang beliau buat.

Maka saya kira tidak ada salahnya untuk menceritakan kisahku dengan beliau sepanjang pertemuanku yang singkat. Kutuliskan ini dengan rasa belasungkawa yang mendalam, betapa tidak…. Allah memanggil pemuda 28 tahun ini (begitulah dia menyebutkan umurnya tahun lalu) melalui suatu kecelakaan tragis selasa malam lalu, 26 september 2006.

Masih teringat dibenakku suara khasnya dan keramahannya yang menakjubkan, serasa aku belum pernah bertemu orang yang lebih ramah darinya…..
Juga kedermawanan dan ketulusannya, serasa aku belum pernah bertemu orang yang lebih dermawan darinya…..
Juga matanya yang merah kurang tidur ketika mempersiapkan program dakwah…..
Dan Allah takdirkan sejak musibah itu tidur yang panjang lagi lama.
Ya Allah, kami ridha atas ketentuanMu dan semua ketentuanMu pasti bijaksana dan pasti mengandung Hikmah bagi kami.

Perkenalanku…..
Aku lupa sudah berapa lama aku mengenalnya, seingatku pertama kali aku bertemu dengannya tahun 2004, tidak lama setelah beliau merintis Maktabah Abdullah dan merilis video rekaman2 ceramah sunnah. Kurun 2004 hingga kini mungkin pertemuanku dengannya tidak lebih dari 10 kali, tapi Allah mentakdirkan setiap pertemuan kami yang singkat itu memberi banyak manfaat dan barakah. Kukira dialah pelopor produksi video ceramah sunnah saat itu, maka kucoba menemuinya langsung melalui alamat yang tertera pada VCDnya. Kala itu kantornya masih yang lama berupa ruko di daerah Utan Panjang, senen.
“Dulu ana suka merekam ceramah-ceramah ustadz, sampai-sampai hardisk ana penuh dengan video rekaman mereka”, ujarnya kala itu. Lama-lama nampaknya ustadz merasa terganggu dengan aktivitas ana, akhirnya dilaranglah ana merekam2 ceramah mereka.
Larangan tersebut tentu wajar, mengingat dakwah model rekaman video memang tidak jamak saat itu kalo mau dibilang belum ada. Maka tidak salah jika para ustadz melarang karena mereka membutuhkan fatwa tentang perkara ini. Satu sikap yang patut diteladani.
Namun larangan itu tidak membuatnya patah arang, demi melihat maslahat besar bagi umat, beliau terus meyakinkan para da’i tentang manfaat rekaman tersebut. Beliau pun mencari fatwa tentang kebolehan rekaman tersebut dan menyebarkannya. Ah dasar Walto, dia mendapatkannya…..

Aku mengenalnya sebagai orang yang kreatif dan cerdas juga ahli strategi, setidaknya menurut pengakuannya dia hanya butuh 5 tahun untuk lulus sekolah dasar.
“Pas ana kelas lima SD dulu guru anak maksa ana ikut ebtanas, karena katanya ana tuh anak pinter”.

Dakwahnya…..
Rukonya kala itu cukup ramai dikunjungi orang dan da’i, terutama orang awam yang haus akan ilmu-ilmu agama. Beliau melengkapi kantornya dengan buku2 Islam dan VCD. Tak lupa memberikan diskon dan tidak bakhil untuk membagi2kan buku maupun kaset Islam gratis. “Buat antum pokoknya harga distributorlah”, ujarnya.

Beliau juga aktif berdakwah dan mengajak masyarakat untuk kembali pada sunnah, berbaur dengan masyarakat, dan memperkerjakan masyarakat sekitar untuk memperkuat dakwahnya. Pelanggannya terdiri dari berbagai kalangan baik tua-muda, kaya-miskin, awam maupun da’i, bahkan tidak malas untuk menjelaskan sunnah pada orang awam yang bertandang ke tokonya.

Namun semua ini tidaklah berjalan tanpa duri dan kerikil disana-sini. Tidak sedikit kelompok-kelompok dakwah yang hasad, dengki dan gerah dengan tersebarnya sunnah di masyarakat, terutama setelah tersebarnya VCD dakwah produksi beliau dalam waktu singkat ke seluruh Indonesia, bahkan manca negara.

Maka tak ayal, berkumpulah sekelompok jamaah hizbi beramai2 mengepung kantornya menuntut ditutup dan dihentikannya aktivitas dakwah beliau. Tak berhenti disitu, mereka juga memprovokasi polisi untuk menggerebek dan menghentikan aktivitas beliau dengan alasan2 yg dibuat-buat.

Namun Allah menampakkan kuasanya, Allah takdirkan masyarakat sekitarnya menjadi simpati dan membelanya yang menghadang polisi maupun pendemo. Lagi-lagi kecerdasan dan kelihaiannya mampu meyakinkan polisi dan pendemo untuk meredakan aksinya. Aku tidak mungkin ceritakan kemampuan diplomasinya disini.

Kreativitas dan kedermawanannya
Aku mengenalnya sebagai sosok yang punya segudang ide, suatu ketika dia menunjukkan proyek kamus indonesia-arab elektronik buatannya.
“Ini masih terus dalam tahap penyempurnaan, sudah setahun lebih ana minta ustadz2 untuk mengetikkan contentnya. Contentnya mencapai ratusan ribu kata, tapi masih takut ngelepas, khawatir gampang dibajak”, cetusnya.

Beliau pun meminta beberapa ikhwan menguji software kamus itu,
“San, tolong bajak sofware ini bisa ngga, ana sudah utak-atik supaya susah ditembus nih, tapi coba deh….”, Ujarnya kepada kami.

Software buatannya itu konon mencakup beberapa kamus cetak Indo-Arab. Sayang sampai terakhir pertemuanku rencana rilis software tersebut belum juga kesampaian, entah gimana nasibnya nanti. Semoga ada yang mampu menyempurnakannya sehingga cita-cita beliau kesampaian.

Melalui usaha percetakaannya beliau banyak membagi-bagikan produk2 Islam yang bermanfaat seperti stiker2 nasihat berisi hadits, kalender, pembatas buku, booklet, buku2 Islam dan masih banyak lagi, terutama juga ribuan VCD kajian Islam.

Saat ramadhan tahun lalu aku bertandang ke kediamannya,
“San, ana mo bagi2 VCD Islam nih, antum bantu dong bagi-bagiin di daerah Jakarta Barat, blom ada orang nih. Kita bagiin VCD sifat Puasa Nabi, Ust. Yazid dan ceramahnya Syaikh Sudais”
“Beres lah Jakarta Barat, ntar ana kontak temen2 ana buat bantu”
“Antum sanggup berapa? Bawa 400 yah”
“Ampun deh, banyak amat… antum bisa kayak gini dananya dari mana?”
“Alhamdulillah…. Lagi ada rejeki. Malah ana mo bikin program rutin bagi2 VCD gratis. Tolong yah, pokoknya harus habis sebelum lebaran. Bagi-bagiin utamakan di mall yah, utamakan bagi ke orang2 awam”


Menyebarkan sunnah, mematikan bid’ah
Sekalipun sebagai pemimpin sebuah perusahaan, beliau tidak segan2 turun langsung ke lapangan untuk menyebarkan sunnah dan dakwah Islam. Bahkan membagi2kan langsung VCD ke masyarakat dan juga lingkungan sekitar, tak terkecuali lingkungan yang “belum mengerti” dakwah salaf.
”Walto, ana sudah bagi2 kan ke teman2 untuk distribusi jakarta barat, juga bagi2in langsung ke mall”
“MasyaAllah, ana malah bagi2in di masjid Kebon Jeruk”
“Hah, Masjid Kebon Jeruk!!!!”
“Iyah, trus pas ana bagiin ke orang-orang, pengurusnya kayaknya ngga suka. Apalagi pas lihat nama penceramahnya. Dipanggillah ana ketemu pengurusnya”
Kemudian beliau menceritakan dialognya dengan pengurus
“Anda ngga boleh sebarin VCD ini disini”
“Memangnya kenapa, Pak. Ini khan mesjid umum, lagian VCD ini bagus kok, mengajarkan tentang Sifat puasa nabi berdasarkan Qur’an dan sunnah.”
“Pokoknya beda!!!!”
“Beda apanya sih, Pak. Sama aja kok, ini khan buat kebaikan masyarakat”
“Anda tidak boleh membagikan VCD di mesjid ini”
“Ya udah kalo ngga boleh bagiin disini berarti boleh yah bagiin di depan gerbang mesjid”
Maka pengurus dan jamaah masjid itu pun yang didominasi kelompok suatu jamaah ala india ini cuma melongo melihat dia membagi2kan VCDnya kepada masyarakat yang melintas di sekitar masjid.

Tatkala VCD buatannya ditayangkan sebuah program ceramah televisi lokal, yang pertama beliau lakukan bukanlah menuntut royalti atau izin….
“Walto, antum tau ngga, VCD maktabah abdullah sekarang sering disiarin untuk mengisi program ceramah disalah satu televisi lokal di Bandung”
“Alhamdulillah, serius nih?”, ujarnya bahagia.

Beliau juga memiliki andil besar dalam menggulung jama’ah bid’ah, pengusung nabi Palsu, pengigau nomor wahid, Lia Aminuddin al halik. Setelah belasan tahun aliran ini eksis dan MUI pun gagal membasmi aliran ini dari bumi Indonesia, akhirnya Majelis hakim pun akhirnya mengetuk palu untuk vonis penjara bagi nenek itu.

Jatuh vonis kurungan pada akhir Juli lalu tersebut bukan diraih dalam satu malam, tapi buah perjuangan panjang ikhwan2 masjid meranti dan masyarakat yang dipimpin beliau.
Masih teringat di kepalaku rincian strategi A-Z nya untuk melenyapkan jamaah yang berlokasi tak jauh dari rumahnya itu. Sebuah kerjasama yang apik! Laporan dan keluhan masyarakat ditindaklanjuti lobi dengan pemerintah setempat dan polisi plus koordinasi dengan aparat. Juga pencetakan brosur2 bahaya komunitas Lia Eden ditambah petuah2 dan ceramah para ustadz penyeru dakwah salaf yang tidak kenal henti ke masyarakat. Gayung pun bersambut, dengan koordinasi media cetak dan elektronik mengangkat perjuangan mereka membasmi bid’ah menjadi berita nasional. Bahkan televisi pun sampai merelay sebagian isi VCD dialog Masjid Meranti dengan jamaah Lia Eden ini yang beliau buat.

Pada kurun ini meningkatlah simpati masyarakat pada dakwah ini, hal ini pun dimanfaatkan beliau pula untuk berdakwah serta menjelaskan tentang sunnah kepada para polisi di daerahnya, sehingga merekapun bisa satu kata dengan beliau.

Silakan lihat sebagian beritanya seperti di http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/06/tgl/29/time/154853/idnews/626145/idkanal/10

Sebetulnya, meringkus Lia Eden merupakan kisahnya terpanjang yang pernah beliau ungkap dan tidak mungkin saya tuangkan semuanya. Perjuangan yang berjalan berbulan-bulan penuh tantangan dan ancaman, tapi cukup jadi pelajaran bagus…. bahwa hegemoni kesesatan yang berjalan bertahun2 di negeri ini, yang disinyalir memiliki back-up luar bisa baik dana maupun pejabat negeri yang tidak amanah dan media yang memiliki tendensi tertentu terhadap Islam itu bisa ditumbangkan. Tentu saja tumbang dengan pertolongan Allah…… karena buah dari kesungguhan amar ma’ruf nahi munkar.

Kamu tahu, hasil gemilang ini hampir2 menjadi lonceng kiamat bagi JIL dan sekutunya. Ternyata….. sepak terjang kesesatan itu ada batasnya juga, yaitu jika berhadapan dengan takdir Allah, juga kegigihan amar ma’ruf nahi munkar. Kasak-kusuk mereka untuk membela Lia Eden mampu dipatahkan dengan kerjasama seluruh komponen masyarakat.


Silaturrahim ulama’
Keuletan dan kepandaiannya menjaga amanah membuatnya disegani banyak pihak. Sampai akhirnya beliau diamanahi untuk menyelenggarakan tabligh akbar para ulama’ sunnah dari Yordania di Jakarta, yakni murid2 Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Maka mulailah beliau melakukan persiapan lama dan perhitungan yang matang demi memikul tanggung jawabnya ini. Sebuah tabligh akbar sunni terbesar yang pernah terjadi di negeri ini. Negeri yang banyak penghuninya dihinakan dengan kejahilan terhadap Din dan kemusyrikan….. akan dimuliakan dengan penegakkan sunnah.

Tentu saja, keberhasilan tabligh akbar yang dinamai “Silaturahmi Akbar Ulama dan Umat” itu merupakan kerja tim dan semua pihak, saya harap saudara2 sekalian tidak keberatan jika pada kesempatan ini saya menonjolkan peran beliau yang tidak sedikit.

Pada kesempatan ini beliau memanfaatkan segenap potensi kaum muslimin, tak hanya itu….. juga menginfakkan hartanya, juga mencetak brosur dan pamflet melalui percetakan miliknya, dan menggerakkan seluruh tenaga ikhwan se-ibukota untuk publikasi acara.

Dan hasilnya tentu diluar dugaan, antusiasme masyarakat yang tinggi untuk dakwah ini menjadikan Masjid Istiqlal disesaki puluhan ribu manusia. Serasa separo warga ibukota memenuhi “undangan” ini. Kalian adalah saksinya!
Sampai salah seorang ustadz terperangah, “Umat ini Walto, Umat!”, tuturnya menceritakan.

Begitu juga pada penyelenggaran Silaturahmi kedua dan ketiga tahun ini, setiap beberapa hari menjelang hari H selalu kusempatkan menawarkan bantuan,
“Hasan, masyaAllah… kemana aja antum, bantuin nih ikhwan2. Sebarin pamflet yah, nih bawa 2 rim, bisa khan.”, sambutnya.
Meskipun keletihan, dia masih menyambut setiap tamu yang tidak henti2nya menghampiri rumahnya dengan ramah. Sering kulihat merah matanya,
“Walto, matamu sudah merah tuh, istirahatlah”
“Maunya sih, tapi nyebarin pamfletnya belum beres nih”

Tabligh akbar bersama ulama’ madinah Juli lalu tampaknya jadi pertemuan terakhirku dengannya, tepatnya semalam menjelang hari H,
“Akhi, apa yang bisa dibantu nih?”
“Antum sebarin lagi dong pamfletnya yang banyak, yang kemaren dibawa tempel dimana?”
“Ana dah bagi2in pas jumatan deket kantor, tapi percuma malam ini, khan acaranya udah besok pagi”
“Ngga pa pa, ana aja masih semangatin ikhwan-ikhwan buat nempel, padahal ana sudah lemes nih, Syaikh Abdurrazzaqnya ngga bisa dateng, ayahnya Syaikh AbdulMuhsin sakit…. MasyaAllah, Beliau memang bener2 birrul walidain. Tapi antum jangan bilang2 ikhwan sekarang, nanti mereka jadi lemes juga”
“Sekarang lagi bikin apa?”
“Ana mo buat presentasi dari biografi singkat 3 ulama’, syaikh bin Baz, syaikh Utsaimin, dan syaikh Al-Albani. Nanti ditampilin pas sebelum acara dimulai”
Tampaknya presentasi itu yang dibuat semalam suntuk itu jadi karya terakhirnya yang pernah kulihat.

Rasanya aku terlambat untuk mengucapkan terima kasihku padanya, atas segala kebaikannya selama ini. Dalam setiap pertemuanku yang jarang kurun dua tahun ini, rasanya tidak pernah dia lewatkan untuk menceritakan semua ini..... semua kisah yang memotivasiku untuk ikut menolong dakwah ini dengan segala kekuranganku.... seolah beliau menceritakan semuanya untukku, orang yang kurang dikenalnya, dan jarang bersamanya justru agar aku menceritakannya kembali kepada siapapun yang kukenal.

Aku pun bahkan tidak kenal keluarganya, dan tidak bersamanya mengiringi peristirahatan terakhirnya..... dan aku bingung kepada siapa aku harus berta’ziyah.... dimana kuburnya sehingga aku bisa shalatkan dia, mendo’akan rahmat dan ridho, ra’fatud darajat fil janan, wa shahbatul akhyar min ibaadi rabbina Ar Rahman.... aku tidak tahu. Bahkan hingga tulisan ini kubuat.

Aku iri, umurnya yang pendek tapi dipenuhi cahaya dan amalan luar biasa bagi kaum muslimin, setiap menit dan detik waktunya adalah perjuangan.... dari setiap safarnya dan diamnya selalu diingatnya manfaat bagi kaum muslimin....

Sedangkan aku, tidak lebih dari orang yang hidup paginya untuk sorenya, dan sorenya untuk paginya sendiri....

Tetapi telah berlaku ketentuan Allah Jalla wa Ala, penaNya telah diangkat.... dan tulisanpun telah mengering....
قد كان ماخشيت أن يكونا إنا إلى الله لراجعونا

Yang kuinginkan adalah.... kuhibahkan sisa umurku yang tidak bermanfaat ini untuknya.... tetapi semua berjalan diatas HikmahNya. Laa Haula wa laa quwwata illa billah

Benarlah perkataan nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam
“Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah engkau katakan : Andai aku melakukan begini atau begini, tetapi katakanlah Qadarallah, wa maa sya’a fa’ala. Karena ucapan “seandainya..” akan membuka amalan syaithan” (HR. Muslim dari Abi Hurairah)

Aku ucapkan, Allahumma Ajirnii fii mushibatii wakhlufnii khairan minhaa

wassalam
Jakarta, 10 Ramadhan 1427 H
Zico Hasan bin Nasri